umy el chamidy

untuk semua yang mau berbagi

Cinta Terlarang


Di belakang punggung mereka
kita berjalan dalam indahnya cinta
di balik ketidaktauan mereka
kita suburkan gejolak seminya rasa
biarpun aku tau…
Pertalian ini tak bertujuan

dan di setiap hati kecilku berontak, berteriak
semilir cintamu mendamaikan selalu
selalu… Selalu seperti itu
berkali-kali…

Dan pada akhirnya…
Ketika hati telah lelah dengan perdebatan tak usai
ketika hati telah jenuh dengan penantian tak berujung
kukibarkan bendera putih pada nurani
walau gejolak ini semakin meraksasa

yah… Kita kalah sayang,
Karena cinta kita
tak lebih besar
dari komitmen yang dia berikan

Nasib Sang Penjajak Cinta


Beruntun kau buka hati demi hati
belum selesai kau kunci
kau buka lagi lain hati
beribu janji kau umbar kesana sini
Berjuta rayu kau tebar berkali-kali

belum kau tetapkankah?

Sampai kapan
kau menjajaki setiap hati
jika akhirnya
Mereka mantap dengan pilihannya sendiri
dan kau…
Tetap sendiri dalam penjajakan
yang tak tau pasti

Jerit Sebuh Pena


Wahai kertas putih…
Sekian lama batin ini merindumu
tak lekang jiwa ini memikirkanmu
bergolak hati ini akan damba membelaimu
bertumpuk aspirasi menekan nuraniku

tentang berita disana
tentang derita disana…

Namun,

keraguan, ketakutan dan kekuasaan
memenjarakan pikirku

jika tiba kebebasan itu
kelak kuceritakan
segala yang mendesak di ujung rongga ini…
Hingga tiada lagi warna tersisa dalam diriku
hingga tiada lagi ruang hampa dalam dirimu
dan akhirnya…
Mereka semua tau melalui goresan di tubuhmu

inspirasi


Ada namanya
tentang kisahnya
seputar kehidupannya
dan mulai dari dia
pusi ini bercerita

“. . . . . ?”


Aku tak pernah menghitung waktu

yang berjalan mendampingiku…

tanpa ku tau

ku mulai percakapan dengan waktu tentang rahasia

yang kusembunyikan dari diriku sendiri

aku mulai bertanya lewat pesan angin kepada indraku

akupun tak percaya dengan apa yang dikatakan angin

ketika angin mulai berucap,

aku diam dan mengingkari

memangnya apa yang dijawab angin?

apakah dia yang tercipta mampu menembus batas khayal

aku mulai tak memahami arti keberadaannya

cinta…… kataku tak berbahasa

 

terkarya dari tarian hati seorang Aryo Denggleng

” P U P U S “


dan si pungguk pun menangkupkan kembali rindunya

tersimpan… terkubur…

bersama jerit perih entah di serpih hati sebelah mana

merelakan sang bulan tetap mengawang anggun

di ubun cakrawala

mengistimewakan sinarnya untuk satu belahan pasti

yang terpilih sesaat nanti

karena pungguk menyadari

pungguk tetaplah akan menjadi pungguk,

yang rindunya takkan pernah sampai…

BERKAH SATU HURUF


 

“Ckckck. Piye toh nduk nduk… ngapalke sa’surat kok mbuuulet ngono iku. Dideres meneh sing bener!!!”. Demikian kata-kata abah meluncur ketika sore tadi aku kembali gagal menghafal surat Al-Qolam dengan sempurna. Raut mukanya terlihat tak puas bahkan kecewa dengan apa yang telah aku setorkan. Akupun mundur dari hadapan abah dengan hati berkecamuk.

Malam ini aku memilih untuk ‘uzlah ke mushola disaat teman-teman satu kamar yang lain tengah asyik bercanda tentang pengalamannya dibentak-bentak abah ketika ada ayat yang terlupa atau terbolak-balik ketika mengaji. Biasanya aku juga semangat berbagi keluhan dan ejekan setelah mendapat hal yang sama setiap kali sehabis setoran ba’da isya’. Tapi kali ini aku tak tertarik. Aku ingin menyendiri. Aku ingin merenung. Tentang hal yang aku alami tadi sore. Hari ini adalah hari keempat aku menghafal surat yang sama dihadapan abah, tapi tetap belum sempurna seperti yang diharapkan oleh abah, tanpa cacat satu kalimatpun. Tidak terbolak-balik dan tidak terlupa urutan masing-masing ayat.

Sejujurnya caraku membaca Al-qur’an sudah cukup baik, baik makhorijul huruf maupun tajwid, karena tidak semua santri bisa mendapatkan rekomendasi langsung dari abah sepertiku untuk menghafal Al-qur’an setelah selesai menghafal Juz 30 yang merupakan kewajiban bagi setiap santri di pondok pesantren al-qur’an, tempat aku menimba ilmu agama sekarang ini. Ketika aku selesai menghafal juz ‘amma dengan baik, abah memintaku untuk menghafalkan Al-qur’an secara keseluruhan dan beliau menyarankanku untuk memulainya dari juz belakang.

Menghafal Al-Qur’an secara mundur mulai dari juz 29 memang lebih sulit karena kalimatnya cenderung pendek-pendek, tetapi dawuh abah hal itu lebih baik karena langkah berikutnya akan lebih mudah setelah melalui hal yang paling sulit. Maka aku putuskan untuk mengikuti saran abah, walaupun sebenarnya aku bisa saja mengikuti kata hatiku untuk memulainya dari depan. Tapi kejadian tadi sore membuatku berpikir kembali, kenapa sekarang aku begitu sulit menghafal? Begitu sulitkah menghafal Al-Qur’an itu secara keseluruhan? Apa aku menyesal karena tidak mengikuti kata hati, bahkan apakah aku menyesal telah mengambil keputusan besar untuk menghafal satu mushaf Al-Qur’an? Padahal jika keputusan ini tak aku ambil, aku bisa lebih konsen ke pendidikan formalku agar lebih  cepat lulus dan mendapat pekerjaan dengan cepat tanpa harus memikirkan hafalan yang harus senantiasa aku jaga.

Memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu, air mataku menitik. Sudah lebih dari sebulan sejak aku mengkhatamkan juz ‘amma dan akhirnya memilih untuk memasuki kelas penghafal Al-Qur’an. Tapi belum genap dua surat yang berhasil kuhafalkan secara sempurna. Rasanya menginjakkan langkah di kelas tahfidz ini menjadi sangat berat. Padahal proses menghafal juz ‘ammapun tidak sesulit seperti sekarang ini, bahkan aku dapat menyelesaikannya secara sempurna dalam waktu tiga bulan.

Menginjak tengah malam, aku putuskan untuk menutup hariku dengan 3 roka’at witir seperti yang disarankan abah untuk santri-santrinya, terlebih kepada para penghafal Al-Qur’an.  Dalam sujudku, kuadukan segala kegusaranku dalam setiap kelemahan dan kesulitan yang kualami. Setelah puas menumpahkan semua yang ada di hati, aku beranjak ke kamar untuk tidur. Dan aku terlelap dalam pertanyaan- pertanyaan yang belum kutau pasti siapa yang bisa menjawabnya.

 

***

 

Aku berjalan menyusuri jalan setapak lurus yang di kanan kirinya terdapat pohon-pohon kecil dengan bunga yang masih kuncup, entah bunga apa. Rasanya belum pernah kulihat sebelumnya. Bebatuan yang kutapaki juga bersih dari tanah-tanah yang menempel dan mengotori, semuanya berwarna putih kehijau-hijauan dan tertata rapi. Ketika aku hampir sampai di ujung jalan setapak, tampak sebuah dedaunan penuh bunga putih yang melingkar setengah lonjong menyerupai sebuah gerbang. Aku tertarik untuk mendekat. Setelah kumasuki gerbang itu, kudapati sebuah padang rumput yang begitu luas sehingga aku tertegun dan menghentikan langkah. Aku terpana. Indah sekali. Tempat apa ini? Semuanya didominasi warna hijau. Ada pepohonan yang penuh dengan buah-buahan segar, ada taman bunga yang tengah mekar dan ada sungai yang mengalir ditengah-tengah taman dengan air yang begitu jernih dan segar. Menyejukkan. Dan aku tenang berada disini. Ingin terus berada disini. Melihatnya saja hatiku terasa sangat damai. Tempat apa ini?

Aku kembali melangkah. Hatiku mengisyaratkan kepada kedua kakiku untuk menapaki setiap jengkal taman yang terhampar begitu mempesona ini hingga ke ujungnya sambil menikmati kesegarannya. Kemudian satu demi satu deretan tanaman bunga itu aku lewati dengan takzim. Kuhirup aroma segar dan wangi bebungaan yang menyusup masuk melalui celah lubang hidungku. Kemudian aku sentuh kelopaknya dan kuciumi lagi wanginya.

Belum selesai kunikmati semua pemandangan indah yang baru pertama kali kutemui itu, ekor mataku menangkap sesuatu yang bergerak di seberang sana. “Sepertinya ada orang lain di tempat ini,” batinku menerka. Aku menoleh. Ah, iya. Dan ia pun melihatku dan ia tersenyum. Ketika senyumku terkembang, ia berjalan kearahku. Entah kenapa kakiku juga tergerak untuk berjalan pelan. Mendekat ke arahnya.

Dadaku berdegup sedikit lebih kencang mengetahui ia bukan manusia biasa sepertiku. Ia berjalan sepertiku, tapi caranya berjalan tak sama sepertiku. Anggun sekali. Parasnya sangat rupawan tapi sulit bagiku untuk mengukurnya. Posturnya hampir sepertiku tapi sama sekali berbeda. Sangat menawan. Dan semua yang ia kenakan bernuansa putih kehijau-hijauan. Menyejukkan pandangan. Siapa dia?

Ketika ia sampai di hadapanku, senyumku sirna berganti sorot keingintahuan. Batinku merasa aku mengenalnya tapi rupanya begitu asing dalam pandanganku. Jiwaku terasa dekat dengannya dan entah kenapa aku ingin terus melihatnya, tapi sisi jiwaku yang lain masih bertanya-tanya, siapa dan dari mana asal makhluk indah ini.

Belum sempat kutanyai semua itu, kulihat di belakangnya banyak yang lain seperti dirinya tersebar di seluas padang itu. Mereka memandangiku dan tersenyum kearahku. Tapi ketika aku balas tersenyum, satu persatu dari mereka bergegas pergi menjauh dan menghilang hingga hanya tersisa satu dihadapanku. Pandanganku kembali tertuju kepadanya. Aneh. Ia tetap bergeming di tempatnya dengan senyum manis yang masih merekah dari bibirnya. Entah kenapa ia tak mengikuti yang lainnya untuk berlalu.

“Kamu siapa?” akhirnya kata-kataku terlontar juga untuknya.

Ia kembali tersenyum dengan sangat manisnya. “Namaku Nun. Aku yang akan menjadi temanmu nanti jika kamu bisa bertahan menjagaku sampai pada masanya habis,” katanya.

Alisku berkerut, tak mengerti dengan apa yang ia ucapkan.

“Kelak aku yang akan menjadi salah satu yang membuatmu tinggal di tempat ini dan menjadi teman yang memberi apa yang kau minta bersama-sama yang lain yang sempat kau lihat tadi. Kamu mau kan tinggal disini bersama kami?” tambahnya.

Aku mengangguk, tapi aku masih belum memahami arah pembicaraannya.

“Lalu siapa mereka? Kenapa mereka hanya melihatku dan berlalu, tidak sepertimu yang tetap tinggal?”

“Aku adalah yang masih bisa kau jaga dengan baik hingga saat ini, sedangkan mereka belum bisa kau jaga sehingga hanya sekilas tampak di matamu dan menghilang segera. Kalau suatu saat kau berhasil menemukan mereka dan bisa menjaganya dengan baik, maka mereka akan bergabung denganku dan menjadi teman-temanmu disini selamanya. Maka jagalah aku dan juga yang lain hingga akhir nafasmu. Jangan pernah menyesal karena berusaha menjagaku karena kebaikan yang akan kamu terima nanti sangat besar dan tak akan ada putus-putusnya,” ucapnya mengakhiri perbincangan kami.

Belum sempat kuajukan pertanyaan lain, ia tersenyum dan berjalan mundur secara perlahan dari hadapanku. Lamat-lamat  sosoknya semakin menjauh dan mengecil dan akhirnya murni menghilang.

Trrriiiiingggggg….!!!

Mataku langsung terbuka begitu terdengar bunyi alarm dari hapeku yang kupasang sebelum tidur. “Astaghfirulloh…” sebutku menggumam. Kesadaranku kembali. “Mimpi apa aku tadi?” kataku lirih, berusaha mengingat-ingat kronologi mimpi yang masuk dalam tidurku. Kuraih handphone yang tergeletak tepat disamping bantal tidurku. Pukul 02.45 dini hari. Kutengok ke kanan kiri, teman-teman satu kamarku masih terlelap di dalam masing-masing selimutnya.

“Bukannya banyak teman-teman yang bilang kalau mimpi di waktu menjelang pukul 3 pagi bukan sekedar bunga tidur semata dan punya makna?” tanyaku dalam hati. Sebelum lebih banyak lagi pertanyaan yang muncul dalam hatiku, aku bangkit keluar dari kamar menuju kolah untuk mengambil wudlu dan bersiap menyapa Sang Khaliq setelah sebelumnya membangunkan teman-teman yang lain secara sekedarnya untuk sholat malam.

Dalam sujud panjangku, kembali kuadukan kesulitanku dalam beberapa hal terutama dalam menghafal Al-Qur’an setelah sebelumnya memuji dan memohon ampun kepadaNya. Kemudahan dalam setiap urusanpun aku pinta dariNya karena memang hanya Dia yang mempunyai segala sesuatu dan Maha Pemberi.

Sebentar lagi adzan subuh berkumandang. Kusempatkan sejenak untuk mengulang hafalanku yang masih kacau, siapa tahu di pagi yang masih segar ini otakku diberi kejernihan berpikir sehingga akan memudahkanku menghafal.

“Bismillahirrohmanirrohiiim… Nuun. Wal qolami wa maa yasthuruun. Maaaaa anta bini’mati robbika binajnuun. Wa inna laka la ajron ghoiro mamnuun…”1

Sampai ayat ini aku terhenti. Berpikir lagi tentang ayat selanjutnya. Aku mendengus. Sampai sekarangpun aku masih belum hafal di luar kepala, bahkan untuk mengingat-ingat ayat keempat aku masih harus berpikir. “Lama-lama aku bisa gila,” pikirku. Tapi buru-buru kubuang jauh-jauh pikiran kotor itu, aku yakin aku pasti bisa. Kutengok lagi mushafku, kucoba untuk membaca terjemah masing-masing ayatnya dengan harapan agar aku bisa mengingat-ingat urutan ayat dengan lebih mudah. Ketika mataku berhenti pada terjemah ayat ketiga, aku terhenyak dengan apa yang aku baca. {Dan sesungguhnya bagi kamu pahala yang besar yang tidak putus-putusnya}.2

Entah mengapa tiba-tiba aku teringat mimpiku tadi malam. Benarkah yang kutemui adalah perwujudan dari huruf di permulaan surat yang sedang kuhafalkan dan apa yang ia sampaikan terakhir kali adalah maksud dari ayat ini? Kenapa ia datang dalam mimpiku?

Ah, aku teringat dawuh abah ketika mengaji bandungan kitab At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’an3 jika Al-Qur’an bisa memberi syafa’at kelak kepada orang yang bisa menjaganya dengan baik, walaupun satu huruf. Dan mimpiku semalam telah meyikinkanku tentang hal itu. Nun datang dan memberi pesan terjemah ayat ketiga karena selama ini aku hanya lancar sampai ayat ketiga. Jika aku bisa menghafal seluruh ayat dengan baik, maka mereka semua akan datang berkumpul dan memberiku syafa’at kelak. Subhanalloh.

Hatiku bergetar memuji asmaNya. Aku terharu. Kembali air mataku terurai. Aku bersyukur karena diberi mimpi yang akhirnya menjawab kegusaranku. Aku yakin tak perlu ada sesal karena mengambil keputusan ini, karena kebaikan yang akan diterima pasti berlipat-lipat sesuai janjiNya. Maka setelah hatiku mantap, kututup kembali mushafku dan kurapal lagi hafalanku hingga adzan subuh berkumandang.

 

***

Sore harinya, aku kembali menghadap abah untuk menyetorkan hafalan setelah satu teman dibarisan depanku selesai menyetorkan hafalannya. Sayang, ia tak terlalu mujur. Ia mundur dengan membawa oleh-oleh 3 kali bentakan dari abah yang pasti akan ia bawa ketika berkumpul dengan teman-temannya di kamar. Giliranku tiba. Hatiku agak menciut, takut mendapat hal yang sama dengan temanku tadi. Tapi setelah  memantapkan hati dan mengucap ta’awudz, hatiku terasa lebih tenang. Ketika kubaca basmalah, aku menutup mata. Kali ini aku ingin melafadzkan hafalnku dengan memejamkan mata agar pikiranku lebih fokus.

“Wamaa huwa illa dzikrul lil ‘aalamiin. Shodaqollohul ‘adziim.”

Alhamdulillah. Akhirnya aku berhasil menyelesaikan setoranku tanpa cacat satu ayatpun. Tanpa terlupa urutan ayat, tanpa terbolak-balik dan pasti tanpa bentakan dari abah. Hatiku lega. Sebelum mundur, kulirik raut abah sekilas. Berbarengen dengan kalimat terakhir yang kulafadzkan, senyum abah terbit dengan puasnya disertai anggukan berkali-kali. Aku pun ikut tersenyum dan mundur dengan hati meletup-letup. Esok, aku bisa menambah hafalanku lagi. Terima kasih Nun. Hadirmu meyakinkanku. Terima kasih Robb, Kau telah memudahkan urusanku. Aku percaya pada janjiMu. Bantu aku dengan selalu memunculkan semangat dalam diriku untuk menjaga kalamMu agar kelak  mereka semua dapat mengantarku menjadi sebagai penghuni jannahMu ya Illahi Robby.

 

CINTA DI PAGI HARI


Lihatlah embun pagi yang menetes satu-satu
Selaksa mutiara manikam
Melekat disetiap putik mawar yang menawan jiwa
Resapilah kicau murai diatas dahan sana
Yang mendendangkan syair-syair kehidupan
Betapa indah dunia jika ditaburi manik-manik kasih sayang
Tengoklah…
Mentari pagi telah tampak cerah dalam kehidupanku
Perjalanan langkah-langkahku semakin terang
Untuk mengejar asa, cita dan cinta hari ini
Duhai… wajah yang menyeketsa di pikiran pagi ini
Betapa kau adalah mentari dalam hatiku
Yang mampu memberikan sinar cahaya
Yang menerangi kehidupanku
Betapa kaulah dian yang tak kunjung padam
Yang mampu menyulut bara api cinta dan cita
Sehingga semangat jiwa ini semakin bergelora


Sendiri di tepian senja

Melepas satu demi Satu

Angan dalam alam khayal

Ah… ini hanya sebuah khayal

Sebuah harapan pemberi warna sang waktu

Dalam hembusan bayu rinduku…

Membawa bayangmu datang

Mengingatkan memori lalu

Saat saat aku bersamamu

Bercerita tentang kisah kita

Yang terlewati… sendiri dan bersama

Di tepian senja kali ini…

Aku mengenangmu kembali

Hingga biarkan merdu itu terlantun

AKU MERINDUKANMU

Antara nyata dan asaku

Harapan dirimu datang dalam nyata

Adalah doaku senja ini

Sungguh…!! Wahai insan…

Aku tak kuasa menahan rasa ini

Sedikit mendesak aku teriris

Air mata ini bagai saksi

Bila ku resah adalah karenamu

Karena aku… rindu kamu

SEMANGAT ‘FASTABIQUL KHOIROT’ MENGGELORA DI ETHO


Marhaban ya Romadlon, marhaban ya syahro shiyam…..
Yup, bulan mulia kini telah datang. Banyak yang tau kan keutamaan-keutamaan yang terdapat di bulan penuh rahmat ini? Dan udah berapa banyak ibadah yang kita dirikan demi menghidupi waktu-waktu berharga yang hanya datang sekali dalam setahun. Sobat,  jangan tunggu besok dan jangan katakan nanti ya. Perbanyaklah ibadah dan berbuat kebajikan. Jaminan pahala yang berlipat sudah pasti kok. Dalil yang menyebutkan tentang hal ini juga uda bejibun banyaknya.
Salah satu hadis yang menerangkan hal ini  bisa ditemukan dalam kitab Durrotun nashihin karya Syaikh ‘Utsman bin Ahmad Asy-Syakir Al-Khubawy yang menerangkan bahwa sesungguhnya Nabi SAW bersabda, ‘Umatku akan diberi 5 hal yang belum pernah diberikan kepada umat-umat sebelumnya. Yang pertama, ketika pada awal malam-malam di bulan ramadhan  Alloh melihat umatku dengan rohmat. Dan barang siapa yang dilihat oleh Alloh dengan rohmat, maka ia tidak akan disiksa selamanya. Yang kedua, Alloh memerintahkan kepada malaikat untuk memintakan ampunan bagi umatku. Yang ketiga, bau mulut orang yang berpuasa di bulan ramadhan dalam pandangan Alloh lebih wangi dari minyak misik. Yang keempat, Alloh berkata kepada surga; ambillah sebagai perhiasanmu dan beruntunglah kaumku yang mu’minin karena menjadi kekasihku. Yang kelima, Alloh akan mengampuni seluruh dosa umatNya’. (Dinukil dari kitab Roudlotul ‘Ulama dalam kitab Durrotun Nashihin halaman 11 bab Keutamaan Bulan Ramadlan).
Dalam kitab Misykat juga disebutkan hadis yang diriwayatkan oleh Jabir bahwa Nabi SAW bersabda “Pada akhir bulan ramadlan, langit bumi dan malaikat menangis karena musibah yang menimpa umatku. Nabi ditanya ‘musibah itu apa?’  Beliau menjawab ‘Yaitu berlalunya bulan ramadlan karena setiap doa dalam bulan ramadlan akan dikabulkan, setiap sodaqoh dan semua amal kebaikan dilipatgandakan, seluruh siksa ditolak. Maka musibah apa yang lebih besar daripada berlalunya bulan ramadlan. Ketika langit dan bumi menangis karenaku, maka aku lebih berhak menangis dan menyesal karena seluruh keutamaan dan kemulyaan dalam bulan ini telah terhenti”. (Referensi: Kitab Durrotun Nashihin halaman 11). Walalupun banyak yang menyebutkan bahwa hadis-hadis di dalam kitab ini do’if (lemah) periwayatannya, namun dalam ilmu hadis, hadis do’if bisa digunakan untuk afdolul ‘amal, asalkan tidak dijadikan hukum. Jadi mengambil hadis ini untuk menguatkan kita melakukan suatu amal kebaikan tak ada salahnya. Begitu kan, Tadz?^_^
Nah, itu tadi sedikit intermesoku buat menguatkan kamu-kamu tentang utamanya beribadah di bulan ramadhan. Jadi tunggu apa lagi, ayo perbanyak ibadah kita di bulan mulia ini. Mumpung masih ada banyak waktu, jangan sampai menyesal nantinya. Tuh liat……, temen-temen santri di Ath-Thohiriyyah aja semangat banget buat memperbanyak ibadah. Apalagi di pondok pesantren ini memang sudah dijadwalkan kegiatan kilatan yang super padat buat mengisi dan menghidupi waktu-waktu dalam bulan penuh berkah ini. Tapi mereka masih menganggap bahwa kegiatan yang dijadwalkan itu kurang sehingga mereka berinisitif untuk melakukan ibadah sendiri diluar kegiatan yang dijadwalkan.
Tengok aja kegiatan yang sudah dijadwalkan seperti sholat fardhu berjamaah, kajian kitab kuning setiap ba’da subuh-pukul 06.30 WIB, ba’da ashar-menjelang maghrib dan ba’da sholat tarawih-pukul 23.00 WIB, sorogan Al-Qur’an setiap ba’da duhur bagi santri non-tahfidz, dan ba’da duhur, ashar dan tarawih bagi santri tahfidz. Bisa dibayangkan kan gimana sibuknya santri-santri Etho ini menjalani rutinitas di Bulan Ramadhan? Tapi mereka tetap semangat menjalaninya dan tanpa mengeluh sedikitpun karena lapar atau lelah. Kalian bisa lihat ghiroh mereka ketika shof-shof di mushola/masjid pondok selalu penuh sebelum adzan berkumandang karena santri-santri ini tidak mau kehabisan tempat atau ingin mendapat tempat di shof pertama. Pastinya udah tau donk keutamaan sholat berjamaah, apalagi di shof pertama. Ditambah lagi di bulan ramadhan. Berapa besar pahalanya. Tapi ga usah pusing mikir itu, karena itu urusan Alloh. Ok? Eh, mushola/masjid juga penuh loh pada waktu sahur. Ada yang lagi sholat tahajud, sholat hajat atau membaca Al-Qur’an. Mereka tak melewatkan waktu setelah sahur untuk kembali tidur, melainkan untuk kembali menambah amal kebaikan di bulan suci Ramadlan. Subhanalloh…
Oh iya, semangat santri Etho ini juga terllihat ketika mereka saling berlomba untuk mendapat giliran awal pada saat setoran Al-Qur’an. Padahal pada bulan-bulan sebelumnya, tak sedikit yang enggan untuk sorogan hafalan. Tapi memang ramadhan penuh hikmah dan berkah, jadi santri-santri ini dengan masing-masing hati nurani tergerak untuk melakukan kewajiban santri itu. Eh, beralih ke tempat wudhu juga sama penuhnya. Sebelum adzan aja udah banyak yang mengantri untuk mengambil wudlu agar dapat sholat tepat waktu. Wah benar-benar semangat yang memotivasi.
Nah, pada jam-jam luang diluar jadwal, santri-santri etho ini lebih menyibukkan diri dengan membaca buku, muthola’ah kitab atau membaca Al-Qur’an secara mandiri. Setiap santri berlomba-lomba untuk memperbanyak bacaan Al-Qur’an dengan target masing-masing. Ada yang punya target sebulan satu kali khotam, 2 minggu satu kali khotam, bahkan tak jarang yang menargetkan khotam tiap minggu. Yang ingin khotam 3 hari sekali juga ada. Hebat kan? Selebihnya, ada yang mengisi waktu untuk berdiskusi, bercengkerama dengan santri lain, melakukan kegiatan kebersihan atau banyak juga yang mengisinya dengan tidur. Karena tidurnya orang yang puasa juga berpahala toh??? Hehehe.
Nah itu sedikit gambaran aktivitas yang ada di pondok pesantren Ath-Thohiriyyah Karangsalam Kidul Purwokerto selama bulan ramadhan. Mereka menghidupi bulan penuh berkah ini dengan berbagai kegiatan positif untuk menambah pundi-pundi amal dan pahala yang telah dijanjikan oleh Alloh. Lalu, bagaimana ramadhan dalam hari-harimu???
Semoga sedikit tulisan ini bisa memotivasi.

Post Navigation

%d blogger menyukai ini: